Home Artikel Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. II)

Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. II)

1

Allah Berikan Kabar Gembira Kepada Ibrahim As

Atas ihtiar panjang, kesabaran, ketaatan Ibrahim kepada Rabbnya, maka Allah pun memberikan kabar gembira Ibrahim, seperti yang termaktub dalam Qs. As Sahffat: 101; فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ  “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”

Dalam tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah, anak yang halim, artinya sangat sabar, akhlaknya mulia, dadanya lapang dan suka memaafkan kesalahan orang.

Anak yang disebutkan sebagai berita gembira bagi Ibrahim tersebut adalah Ismail As.  Putra pertama Ibrahim, Ismail, lahir dari rahim Siti Hajar. Siti Hajar merupakan hadiah dari Raja Mesir kepada Siti Sarah. Mengetahui bahwa dirinya mandul dan Hajar adalah wanita terhormat yang taat dan baik. Maka Sarah meminta Ibrahim untuk menikahi Hajar. Dari rahim Hajar inilah Ismail dilahirkan. Dan saat itu, usia Ibrahim mencapai 86 tahun.

Pengorbanan Ibrahim As, Membawa Siti Hajar dan Ismail ke Makkah

Ibrahim As, pantas menyandang gelar khalilullah. Sebanding dengan perjuangannya yang luar biasa dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

Hadirnya anak yang dinanti-nanti selama puluhan tahun, tentu menimbulkan kasih sayang yang dalam, kerinduan yang dalam untuk menimangnya juga keinginan untuk selalu mengasuh dan merawatnya. Jangankan hingga 86 tahun menanti kelahiran anak. Pasangan rumah tangga yang menunggu anak dalam hitungan 3 atau 5 tahun saja, itu sangat luar biasa curahan kasih sayang kepada anaknya.

Ibrahim, setelah sangat lama menunggu kelahiran anak. Saat anaknya, Ismail lahir, dan masih berupa bayi merah. Istrinya pun masih nifas. Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail untuk hijrah ke Makkah. Kelak disanalah bermula kisahnya zam zam, yang airnya menjadi keberkahan penduduk bumi.

Siti Hajar, yang kala itu melahirkan Ismail di Hebron, Palestina, mengikuti suaminya untuk hijrah, dalam kondisi masih nifas juga membawa bayi yang masih merah. Selain mendapat perintah untuk hijrah, Ibrahim juga tidak diperbolehkan oleh Allah untuk berbicara selama masa perjalanan. Perjalanan antara Palestina ke Mekkah tersebut menempuh jarak sejauh -+ 1.500 km. Memerlukan waktu berbulan bulan jika ditempuh dengan jalan kaki. Membutuhkan sekitar 40 hari jika ditempuh dengan menggunakan unta atau dua bulan menggunakan keledai.

Pada masa perjalanan jauh, dimana Allah dengan kebijaksanaanNya melarang Ibrahim untuk berbicara kepada istrinya selama perjalanan. Mari kita bayangkan, betapa pengorbanan besar yang sulit ditempuh oleh manusia.

Kita sebagai manusia biasa, baru sehari saja tidak bercakap dengan keluarga, itu sangat tidak nyaman. Apalagi jika dalam perjalanan jauh dan tidak bisa bercakap dengan istri. Tentu akan menimbulkan tenakan psikologis yang tinggi. Dan demikianlah Allah memilih Ibrahim sebagai khalilullah. Karena sangat taat dan patuh pada Allah Ta’ala. Dari berbagai cobaan yang ia alami, dapat kita simpulkan, betapa menderitanya dan beratnya ujian yang dialami Ibrahim.

Setelah perjalanan panjang, sesampainya di tanah Makkah, perbukitan padang pasir, tempat yang gersang, tiada air dan tiada penghuni. Disanalah Ibrahim menempatkan istri dan anaknya, Hajar dan Ismail. Ibrahim menempatkan hajar dan anaknya disisi pohon, dan ditinggalkan perbekalan, berupa kantung berisi kurma dan geriba berisi air.

Baca artikel sebelumnya: Meneladani Sang Khalilullah Iibrahim As. Bag I

Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits shahih. Rasulullah ﷺbersabda:

ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا، فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَتْ: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا، ثُمَّ رَجَعَتْ

“… kemudian Ibrahim beranjak pergi, lalu ibunya Ismail (Hajar) mengikutinya dan berkata: “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? kamu tinggalkan kami di lembah ini yang tidak ada manusia dan suatu apapun”. Dia (Hajar) berkata seperti itu berulang kali dan Ibrahim tidak menoleh kepadanya, lalu ia bertanya kepada Ibrahim: “Apakah Allah memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab: ” iya “, lalu ia berkata: “Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”, kemudian ia kembali …” (HR. Al-Bukhari no. 3364 hadits Ibnu ‘Abbas).

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Hajar sempat menanyakan beberapa kali kepada Ibrahim tentang kenapa ia beserta anaknya ditinggalkan disana. Dan Ibrahim pun juga tidak menjawab pertanyaan tersebut lantara Ibrahim harus menaati perintah RabbNya untuk tidak bercakap cakap.  Setelah beberapa kali tidak mendapat jawaban, maka Hajar kembali menegaskan,  آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟  “Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?” Ibrahim akhirnya menganggukan kepala sebagai isyarat jawaban “iya”.

Disinilah kita melihat, betapa tingginya keimanan Siti hajar. Melihat isyarat jawaban Ibrahim, maka Hajar pun menjawab dengan: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Ibrahim, yang juga manusia, tentu sangat tersayat, pedih hatinya, meninggalkan istri dan buah hatinya yang telah lama ia idamkan. Tapi demikianlah Ibrahim, selalu taat dengan perintah Allah. Maka iapun mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah.

(Bersambung Bag. III)

Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version