Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an
Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an

KEMULIAAN PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN

Menghafal Al-Qur’an merupakan aktifitas yang sangat mulia.  Kemuliaan tersebut sudah banyak tercantum di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Rasulullah ﷺ. Sang Ahlul Qur’an, Allah muliakan kedudukannya di dunia dan akhirat. Bahkan saking mulianya, Allah menyematkan gelar bagi para Ahlul Qur’an sebagai keluarga Allah di muka bumi.

Diantara berbagai keunggulan, keutamaan dan kemuliaan para Ahlul Qur’an tersebut, maka para Penghafal Al-Qur’anlah yang paling banyak mendapatkan keutamaannya. Demikian karena untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an, baik itu satu ayat, dua ayat, satu surat, dua surat dan seterusnya, pasti mereka akan membacanya terlebih dahulu. Diantara proses menghafal Al-Qur’an, ada juga yang menyertainya dengan mendengarkannya terlebih dahulu, membacanya, membaca tafsirnya, mentadabburinya dan  mengamalkannya. Kenapa semua keutamaan Ahlul Qur’an ini banyak didapatkan oleh para Penghafal Al-Qur’an? Ya, karena bisa dipastikan, para Penghafal Al-Qur’anlah yang paling banyak membaca Al-Qur’an, dan mereka pula yang paling banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Indahnya Mengikuti Sunnah Rasulullah

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Sunnah adalah jalan yang dilewati, dan hal itu mencakup berpegang teguh dengan petunjuk Nabi ﷺ dan para Khulafaur Rasyidin, yang berupa keyakinan, amal perbuatan, dan perkataan. Inilah Sunnah yang sempurna[1]

Nabi Muhammad ﷺ adalah nikmat Allah ﷻ bagi makhluk-Nya, beliau adalah sosok agung yang Allah utus sebagai perwujudan nikmat dan karunia Allah atas hamba-Nya. Rasulullah diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa manusia, mengajarkan alkitab dan hikmah sehingga membawa manusia dari kejahiliyahan menuju peradaban islam.

Bagi Penghafal Al-Qur’an, sesungguhnya Allah telah memuliakan mereka karena mereka termasuk golongan yang mengikuti sunnah Rasulullahﷺ. Demikian karena Rasulullah ﷺ juga menghafal Al-Qur’an.  Setiap bulan Ramadhan, malaikat Jibril selalu mendatangi beliau, menemui beliau  dan mengajak beliau untuk tadarus Al-Qur’an dan mengkhatamkannya. Sampai pada tahun akhir kehidupan beliau, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak dua kali di bulan Ramadhan bersama malaikat Jibril.  Jadi, pada saat kita atau putra-putri kita menghafal Al-Qur’an maka secara langsung kita sudah mengikuti sunnah dan tuntunan Rasulullahﷺ.

Al-Qur’an yang hingga sekarang kita baca, keasliannya sangat terjaga karena dikawal oleh Rasulullah ﷺ dan malaikat Jibril AS. Rasulullah selalu didatangi oleh Jibril pada setiap bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari  Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril As menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah ﷺ orang yang paling lembut melebihi angin yang berhembus” (HR. Bukhari)

Hadits tersebut menunjukkan bukti bahwa Nabi bertadarus  (membaca dan mempelajari) Al-Qur’an bersama Jibril selama bulan Ramadhan. Selama tadarus ini, Jibril memberitahu letak dan urutan setiap ayat. Hadits ini menjadi dalil bagi golongan ulama yang meyakini bahwa urutan ayat dan surat Al-Qur’an adalah tauqifi yaitu berdasarkan tuntunan dari Nabi atas petunjuk Allah melalui malaikat Jibril.

Karena itu, Jibril mengkhatamkan Al-Qur’an setahun sekali bersama Nabi setiap bulan Ramadhan, sedangkan pada tahun dimana Rasulullah meninggal, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali bersama Jibril.

Demikianlah, menghafal Al-Qur’an adalah bagian dari sunnah Nabi. Pantaslah berbahagia, bagi sesiapapun yang telah Allah istimewakan menjadi pengikut sunnah Nabi-Nya. Tiada keindahan yang pantas diupayakan, melebihi indahnya mengikuti sunnah dari Rasul teladan, Rasul terbaik di muka bumi.

(Bersambung Bag. II)

Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.


[1] Imam Ibnu Rajab Al Hanbali, Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam, penerbit Darul-Ma’rifah, Beirut, cet. 1, th. 1408 H, hlm. 263.

Artikel sebelumyaSeri Tausiyah Online
Artikel berikutnyaKemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (II)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here