Perkataan Ulama Tentang Pentingnya Menghafal Al-Qur’an Sebelum Menuntut Ilmu Lainnya

Seorang Ulama yang bernama Abdul Malik bin Juraij, beliau berkata, “ Saya dahulu mendatangi Atha bin Abi Rabah untuk belajar ilmu hadits. Disampingku ada Abdullah Ibnu Ubaid Ibnu Umair. Lalu Ibnu Umair berkata kepadaku ‘Apakah kamu sudah bisa membaca Al-Qur’an? Apakah kamu sudah hafal Al-Qur’an hingga kamu ingin belajar hadits?’. Maka aku mengatakan ‘belum’. Kata Ibnu Umair ‘Pergilah, Hafalkanlah Al-Qur’an baru kemudian pelajari ilmu yang lain’ “. Para ulama terdahulu tidak akan mengajarkan hadits, sirah, dan ilmu-ilmu yang lain kalau mereka belum hafal Al-Qur’an.

Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah salah seorang imam terkemuka madzhab Syafi’i beliau mengatakan, “Seseorang harus memulai dari Al-Qur’an sebelum belajar fiqih, sirah, dan hadits”. Imam An-Nawawi, ketika ada seseorang yang belum hafal Al-Qur’an dan ingin menuntut ilmu fiqih ke beliau, maka beliau minta orang itu untuk menghafalkan Al-Qur’an dahulu. Bahkan yang hafal Al-Qur’an pun ketika belajar fiqih, belajar hadits kepada beliau, lalu dilihat oleh beliau bahwasannya pelajaran-pelajaran ini menjadi sebab mereka melupakan hafalan-hafalan Al-Qur’annya, maka beliau hentikan dan memintanya untuk menguatkan hafalan Qur’annya terlebih dahulu.

Mari kita lihat, bagaimana para ulama terdahulu mendidik putra-putri mereka, mendidik murid-murid mereka sehingga lahirlah ulama-ulama yang tidak hanya berilmu tetapi juga mempunyai akhlak dan jiwa yang bagus. Saat ini, ketika seseorang tidak mempelajari ilmu yang terpenting terlebih dahulu, tidak memulai dari ilmu mendasar dan langsung ke permasalahan besar semisal perbedaan pendapat, akhirnya banyak diantara mereka yang tidak tahu tentang akhlak para ulama. Apalagi yang belajarnya dari youtube atau sekedar membaca buku dan tidak berguru kepada ulama. Mereka mungkin punya ilmu namun tidak memiliki akhlak  dan adab. Maka Imam An-Nawawi Rahimahullah tidak memperkenankan seseorang untuk belajar fiqih dan yang lain sebagainya yang didalamnya terdapat perdebatan masalah khilafiyah, sebelum menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu. Demikian  karena Al-Qur’an tersebut bisa mensucikan jiwa bagi para penuntut ilmu.  

Jadi, ketika kita mendidik anak anak kita untuk menghafal Al-Qur’an sejak kecil atau sejak awal itu, bukan menitikberatkan pada bagaimana target hafalan akan tetapi lebih kepada upaya mencapai  keberkahan  dan keutamaan Al-Qur’an yang bisa menyucikan jiwa. Menghafal Al-Qur’an sejak kecil, itulah yang menjadikan ulama-ulama terdahulu betul-betul  bisa meraih kejayaan islam. Sehingga menjadikan islam itu mulia. Menjadikan islam sangat dihormati di dunia internasional. Karena mereka dekat sekali dengan Al-Qur’an. Jiwa mereka adalah jiwa Al-Qur’an. Akhlak mereka juga akhlak Al-Qur’an.

Sekarang ini,  banyak orang yang belum mempelajari Al-Qur’an, belum mendalami ilmu agama,  sudah belajar tentang perbedaan pendapat. Bahkan membicarakan ulama-ulama besar dan memperbincangkan kesalahan-kesalahan mereka. Mereka mengatakan kata fulan begini, kata ulama ini begini. Mengapa mereka tidak menghabiskan waktu mereka untuk menghafal Al-Qur’an saja?

Seseorang yang pernah dekat dengan Al-Qur’an, yang pernah merasakan susahnya menghafal Al-Qur’an, maka ia akan berfikir seribu kali untuk ghibah apalagi mengghibah para ulama. Kenapa banyak perpecahan dan saling serang antar ulama saat ini? Karena prinsip utama manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam menuntut ilmu ini sudah ditinggalkan oleh banyak orang terutama oleh para penuntut ilmu. Mereka melupakan asas utamanya yaitu Al-Qur’an.

Jika kita menginginkan persatuan umat Islam, persaudaraan diantara umat islam dan diantara para ulama, menginnginkan kejayaan Islam, maka tidak ada cara utama selain revolusi pendidikan kita, yaitu memulai dengan belajar Al-Qur’an, terutama menghafal Al-Qur’an. Setelah mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an, maka bertahap kepada mempelajari tafsirnya, mentadabburinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seorang anak atau seorang penuntut ilmu memulai dengan menghafalkan Al-Qur’an, maka pada saat melalui proses untuk sampai hafal Al-Qur’an itu,  insya Allah akan membentuk hatinya menjadi hati yang tidak mudah untuk menyalahkan orang lain. Hati yang selalu terbuka, dada yang lebar untuk menerima perbedaan-perbedaan. Mereka akan menghormati yang lain,  betapapun susah dan salahnya orang lain. Demikian karena mereka memahami, bahwasannya cahaya ilmu tidak akan mendatangi mereka jika menuruti nafsu maksiat. Sebagaimana perkataan Imam Asy-Syafi’i yang pernah mengadu kepada guru beliau :

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Terdapat juga Ulama lain yang bernama Abul ‘Aina, beliau mengatakan, “ Saya mendatangi Abdullah bin Daud. Lalu Abdullah bin Daud ini berkata ‘Apa tujuan kedatanganmu kesini?’, lalu saya menjawab ‘Saya ingin belajar hadits wahai guruku’. Dan Abdullah bin Daud pun menjawab ‘Pergilah, hafalkanlah Al-Qur’an dahulu!’. Saya pun menjawab ‘Saya sudah hafal Al-Qur’an’. lalu beliau pun meminta saya melanjutkan ayat yang berbunyi وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ (Qs. Yunus). Lalu saya baca sampai sepuluh persen dari surat itu”.

Maksud dari perkataan diatas adalah tidak hanya cukup mengatakan  “Saya sudah hafal Al-Qur’an”, tetapi mesti diuji terlebih dahulu oleh gurunya. Di zaman sekarang ini, jarang kita temui ketika seseorang ingin belajar fiqih, hadits, atau ilmu lainnya, kemudian ditanyakan “Hafal Al-Qur’an tidak?”. Apalagi jika ada yang mengaku “Saya sudah hafal Al-Qur’an”, mestinya seroang guru tidaklah cukup sampai disitu. Guru mesti menguji hafalan muridnya, apakah ia benar-benar Al-Qur’an atau tidak.

Demikianlah prinsip yang dipegang teguh oleh para Ulama Salaf terdahulu. Maka ilmunya berkah, dan lingkungan masyarakatnya penuh dengan kebaikan, karena manhaj dan metodologi di dalam belajar ilmu agama dimulai dengan menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu.

Ibnul Qoyyim Rahimahullah mengatakan, “Dahulu kami mendapatkan berita bahwa guru-guru kami itu, jika ada orang-orang yang datang ke mereka, kemudian sibuk mempelajari buku karangan mereka dan mereka belum hafal Al-Qur’an, maka mereka (para guru) itu akan mengatakan; ‘sekiranya kalian belajar dan menghafal Qur’an  terlebih dahulu niscaya itu akan jauh lebih baik”.

Kisah tersebut berbeda dengan fenomena zaman sekarang. Justru banyak pengarang yang meminta orang lain untuk membaca buku karangannya terlebih dahulu.  Sangat bertolak belakang dengan kehidupan para ulama dimana mereka seringkali menanyakan kepada muridnya, “Mengapa kamu sibuk membaca buku karanganku? Apakah kamu sudah hafal Al-Qur’an?”, Jika ditemuinya orang tersebut belum hafal Al-Qur’an akan diminta untuk menghafalkan Al-Qur’an.

(Bersambung Bag. III)

Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

Artikel sebelumyaKenapa Kita Harus Menghafal Al Quran? (I)
Artikel berikutnyaKenapa Kita Harus Menghafal Al Qur’an? (Bag. III)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here