Alquran, Kitab Terbaik Sepanjang Masa

Al Quran adalah kitab terbaik, alat peneguh yang paling utama. Ia merupakan  tali  Allah  yang  kuat, petunjuk dan cahaya penerang bagi umat islam yang berpegang teguh padanya. Al Quran merupakan kitab yang paling sempurna, dimana tidak ada satupun kitab yang mampu menandingi Al Quran, sejak manusia mengenal baca tulis dari ribuan tahun silam hingga akhir zaman. Kemuliaan Al Quran juga disebutkan di dalam kitabullah, Allah ﷻ berfirman:

….”وَإِنَّهُۥ لَكِتَٰبٌ عَزِيزٌ.”

“…Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia.”(QS.Fussilat: 41).

Tafsir Al Mukhtashar menjelaskan bahwa sesungguhnya Al Quran adalah kitab yang mulia dengan pemuliaan dari Allah dan penjagaannya dari segala perubahan dan pergantian.

لَّا يَأْتِيهِ ٱلْبَٰطِلُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِۦ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS.Fussilat: 42)

Segala kebatilan tidak akan menyusupinya dari arah manapun dan tidak ada sesuatu pun yang membatalkannya, ia terjaga sehingga tidak bisa dikurangi atau ditambah. Diturunkan dari Allah yang Mahabijaksana untuk mengatur segala perkara hamba-hambaNya, Dia Maha Terpuji karena Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

Al Quran Bukti Keimanan Hamba Beriman

Menyatakan keimanan tidaklah cukup sebatas lisan. Iman harus dikukuhkan dengan pembenaran di dalam hati dan pelaksanaannya di dalam kehidupan. Imam Syafi’i mengatakan bahwa “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Ia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” Maka Iman tanpa pengaplikasian tindakan nyata sama saja dengan kebohongan. Ibarat orang yang percaya kepada Allah, tetapi tidak mau menjalankan perintahNya dan melakukan pelanggaran berupa kemaksiatan. Maka yang demikian itu, imannya akan menjadi gugur.

Begitu pula iman kepada Alquran, jangan sampai keimanan yang kita dengungkan, akan menjadi pincang atau gugur lantaran lalai dengan Alquran. Salah satu bukti keimanan kepada Alquran adalah dengan menjadi Sahabat Quran (Sohibul Quran) baik itu dengan mempelajarinya (ta’allamahu) maupun mengajarkannnya kepada orang lain (ta’limuhu). Belajar dan mengajarkan Alquran ini meliputi beberapa aspek diantaranya adalah memenuhi kebenaran bacaan, kebenaran pemahaman dan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. Upaya untuk meraih kebenaran bacaan ini bisa kita dapatkan melalui belajar tajwid dan mempraktikkan bacaannya dengan tartil. Membaca Alquran dengan tartil adalah sebuah keharusan, sebagaimana dalam firman Allah ﷻ:

…”وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا”

“…Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil Ayat 4)

Tafsir Almuyasar menjelaskan  “Lalu bacalah Al-quran dengan perlahan dan sungguh-sungguh sehingga kalian bisa memahami dan mengambil maknanya. Tartil adalah adalah membaca keseluruhan huruf dengan memenuhi atau membaca sesuai dengan makhraj dan tajwidnya.”

Iman kepada Alquran merupakan salah satu pilar dalam rukun iman. Dimana selain mengimani Alquran kita juga wajib mengimani kitab-kitab Allah ﷻ yang diturunkan sebelumnya, yaitu meliputi: Kitab Taurat, Zabur dan Injil. Allah ﷻ berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يَتۡلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ أُوْلَٰٓئِكَ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ.

Artinya: “Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS.Albaqara: 121)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Asbabun Nuzul menjelaskan bahwa firman-Nya (الذين آتيناهم الكتاب يتلونه حق تلاوته), dari Qatadah, bahwa Sa’id meriwayatkan: ‘Mereka itu adalah para sahabat Rasulullah ﷺ’. Abu Al-Aliyah, dari Ibnu Mas’ud meriwayatkan: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya yang dimaksud dengan membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, adalah menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya serta membacanya sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Ta’ala, tidak mengubah kalimat dari tempatnya, dan tidak menafsirkan satu kata pun dengan penafsiran yang tidak seharusnya.” Al-Hasan Al-Bashri mengatakan: “Mereka mengamalkan ayat-ayat muhkam di dalam Alquran dan beriman dengan ayat-ayat mutasyabihat yang ada di dalamnya, serta menyerahkan hal-hal yang sulit dipahami kepada yang mengetahuinya.”

Firman-Nya (يتلونه حق تلاوته), Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Maksudnya adalah mereka mengikutinya dengan sebenar-benarnya.” Setelah itu Ibnu Abbas membaca Surah Asy-Syams ayat 2 yang artinya: “Dan bulan apabila mengiringnya,” ia mengatakan kata (تلاها) pada ayat ini maksudnya yaitu mengikutinya.”

Firman-Nya (أولئك يؤمنون به) merupakan penjelasan dari kalimat sebelumnya. Artinya, ‘Barangsiapa diantara Ahlul Kitab yang menegakkan kitab Allah Ta’ala yang diturunkan kepada para nabi terdahulu dengan sebenar-benarnya, maka ia akan beriman kepada apa yang Nabi Muhammad bawa’, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Maidah ayat 66 yang artinya: “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil serta Al-Qur’an yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” Artinya, jika kalian benar-benar menegakkan (mengamalkan) Taurat, Injil dan Alquran, beriman kepadanya dengan sebenar-benarnya, serta membenarkan kandungannya yang memuat berita-berita mengenai pengutusan Nabi Muhammad ﷺ, sifat-sifatnya, perintah untuk mengikutinya dan membantu serta mendukungnya, niscaya hal itu akan menuntun kalian kepada kebenaran dan menjadikan kalian mengikuti kebaikan di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-A’raaf ayat 157 yang artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” Dan dalam hadits Sahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ: يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ لَا يُؤْمِنُ بِي، إِلَّا دَخَلَ النَّارَ”

Artinya: “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiada seorang pun yang mendengar tentangku dari kalangan umat ini, baik orang Yahudi ataupun orang Nasrani, kemudian ia tidak beriman kepadaku, melainkan dia masuk neraka.”

Demikianlah keagungan Alquran yang menjadi petunjuk seluruh umat manusia di Akhir Zaman. Sesiapapun yang hidup pada masa setelah kenabian Muhammad ﷻ wajib untuk mengimani Alquran. Maka Alquran menjadi bukti keimanan seseorang.

Iman kepada Alquran adalah bagian dari pilar agama islam. Meninggalkannya, akan memincangkan iman sekaligus menjembatani runtuhnya agama mulia ini. Tiada jalan lain dalam menggapai kejayaan Islam kecuali dekat dengan Alquran.

Al Quran adalah jembatan antara kita dengan surga. Sampai tidaknya kita ke surga, tergantung dari seberapa dekatnya kita dengan Al Quran. Bukti terbesar cinta kita kepada Allah adalah dengan mencintai Al Quran, yaitu melalui mempelajarinya, membacanya, memahaminya, merenungi dan memikirkan makna-maknanya. Membaca Al Quran, merupakan salah satu amalan yang memiliki banyak keutamaan. Berikut adalah berbagai keutamaan dari membaca Al Quran. 

(Bersambung Bag. II)

_________

Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

*Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan

Artikel sebelumyaKenapa Kita Harus Menghafal Al Qur’an? (Bag. IV)
Artikel berikutnyaPendaftaran PG-TAUD Utusan Cabang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here