Siti Hajar, Figur Teladan Wanita Sabar dan Tangguh

Perjalanan panjang Hajar bersama Ibrahim. Pengorbanan yang ia lakukan. Tingginya husnudzon Hajar pada suami dan Rabbnya disertai keihlasan, kesabaran dan ketakwaan yang luar biasa inilah yang perlu kita contoh dari Wanita Mulia, Siti Hajar.

Anak yang shalih terlahir dari rahim ibunya yang kuat keimanannya. Demikian juga Siti Hajar, betapa kuat keimanannya, sehingga lahirlah Ismail, dimana kelak dari keturunannya pula, lahirlah penutup para nabi, Nabi Muhammad ﷺ

Menyelami perjalan Hajar. Perjalanan jauh yang harus ia tempuh dalam keadaan nifas, membawa bayi yang masih merah, tidak saling bicara dengan suaminya. Memang betapa istimewanya Hajar. Manusia mana yang mampu menjalani pengorbanan tersebut jika bukan karena hamba pilihanNya?

Di tanah gersang, tandus, tiada banyak pepohonan, terbentang luas padang pasir yang panas. Disitulah Hajar harus bertahan dengan membawa bayi dan perbekalan minim. Bahkan pada saat kondisi sedemikian berat, ia selalu husnudzon kepada Rabbnya, bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Keimanannya yang kokoh, ia wujudkan juga dengan ihtiar kuatnya.

Yaitu tatkala hanya berdua saja ia tinggal di lembah gersang dan panas. Ketika perbekalannya habis, ketika anaknya kehausan, maka ia berlari kecil mencari sumber air untuk anaknya. Ia berlari berkali kali antara bukit Shafa dan Marwa. Dan bermula dari kisah ini pula,  munculnya sumber air zam-zam. Dimana setiap jiwa yang meminumnya, maka mengalir pula pahala jariyah kepada ibunda mulia, Siti Hajar, hingga hari kiamat kelak.

Pada era milenial ini, dimana mulai terjadi pergeseran figur teladan. Dimana mulai mengidolakan artis sebagai teladan. Maka kini saatnya. Mengembalikan keteladan kepada para nabi dan sahabat. Siti Hajar adalah sosok mulia yang pantas untuk diteladani. Pribadi kuat dan tangguh seperti Hajar inilah yang bisa turut meraih kejayaan islam. Bukan generasi yang mudah putus asa, tidak percaya diri dan mudah menyerah.

Baca : Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag II

Salah satu prinsip Siti Hajar yang patut kita contoh adalah, jika kita berada di jalan Allah, berada pada garis perjuangan, maka tidak usah khawatir, karena Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan. Allah tidak akan melalaikan. Dan pertolonganNya akan hadir, tanpa batas, dari segala arah.

Warisan Kesalihan Lebih Penting dari Warisan Harta.

Salah satu doa Ibrahim As yang diajarkan untuk kita dalah doa meminta anak yang shalih. Demikian karena keturunan yang mewarisi kesalihan dan ketakwaan lebih penting dari keturunan yang sekedar mewarisi harta kekayaan.

Berikut ini sebuah kisah nyata pada masa khalifah yang membukakan wawasan kita, bahwa warisan ketakwaan lebih penting dari warisan harta.

Kisah ini berasal dari Muqatil bin Sulaiman yang merupakan nasehat dari apa yang ia lihat dan persaksiakan sendiri. Muqatil mengisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki sebelas anak. Ketika wafat, ia meninggalkan uang delapan belas dinar. Untuk membayar kain kafan lima dinar dan untuk tanah liang kuburnya empat dinar. Sisanya sembilan dinar diwariskan kepada ahli warisnya.

Uang 9 dinar ini jika dibagi kepada 11 anak, jika dirupiahkan maka masing masing anak menerima sekitar Rp1.500.000,- (dengan acuan emas 22k seharga 450ribu, adapun satu dinar setara dengan 4,25 gram emas 22k atau Rp.1.912.500).

Baca Informasi Pendaftaran BIMBEL Quran Online Angkatan 2

Khalifah yang menjabat beberapa tahun sesudahnya adalah Hisyam bin Abdul Malik, yang juga memiliki sebelas anak. Hisyam mewariskan kepada anak anaknya masing masing satu juta dinar. Jika dirupiahkan, masing masing anak Hisyam ini, menerima warisan hampir 2 Triliun (dengan acuan jika 1 dinar setara dengan Rp.1.912.500 maka dikalikan 1 juta mencapai Rp 1.912.500.000.000,-).

Melihat nominal warisan, secara logika manusia, maka yang akan hidup makmur dan berkecukupan adalah anak anak Hisyam. Namun ternyata harta bukan penjamin kemakmuran. Muqatil bahkan bersumpah demi Allah, bahwa pada suatu hari ia melihat salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz bersedekah seratus ekor kuda untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan pada hari yang sama, ia melihat salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik sedang meminta-minta di pasar.

Orang-orang saat itu bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz menjelang wafatnya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?”

Ia menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka takwa kepada Allah. Jika mereka menjadi orang-orang yang shaleh maka Allah yang akan mengurus mereka, jika tidak menjadi orang-orang yang shaleh maka aku tidak akan menolong mereka untuk bermaksiat kepada Allah.

Benarlah kiranya, bahwa Allah akan menjadi wali bagi hamba-hambanya yang shalih. Allah pula yang akan menjamin keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.

(Bersambung Bag. IV)

Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

Artikel sebelumyaPendaftaran Program BIMBEL Qur’an Online (Angkatan 2)
Artikel berikutnyaMeneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. IV)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here