Keutamaan Menuntut Ilmu

Ilmu merupakan sarana untuk beramal saleh. Menuntut ilmu memiliki keutamaan yang agung. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa menuntut ilmu itu lebih baik dari seratus rakaat shalat sunnah.  Sebuah hadits menyebutkan:

يَا أَبَاذَرٍّ ، لَأَنْ تَغْدَوْا فَتُعَلِّمَ اَيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّكَ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ ، وَلَأَنْ تَغْدُوْا فَتُعَلِّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ اَوْ لَمْ يُعْمَلْ خَيْرٌ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ . (ابن ماجة)

Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah telah baik bagimu dari pada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari pada shalat seribu rakaat.” (HR. Ibn Majah)

Begitu agungnya keutamaan menuntut ilmu, sehingga jika ada pilihan diantara kita, antara menuntut ilmu atau shalat sunnah. Maka dahulukan menuntut ilmu, sebagaimana Imam Ahmad dahulu saat ditanya anaknya, “Wahai Ayahku, mengapa engkau sangat mendahulukan mudzakarah (belajar bersama sang Guru yaitu Ibnu Ma’in) dibanding mengerjakan shalat malam?” Maka Imam Ahmad menjawab, “Jika aku ketinggalan shalat malam, maka aku bisa menggantikannya di malam malam berikutnya. Namun jika aku ketinggalan untuk menimba ilmu dari Ibnu Ma’in, maka aku tidak akan bisa mengulanginya.” 

Imam Ibnu Ma’in merupakan imam ahlussunah, seorang pakar hadits (muhadits) dan ahli ilmu rijal (analisis kritis terhadap perawi hadits). Ia merupakan salah satu guru dari Imam Bukhari juga senior dari pakar hadits lainnya, diantaranya adalah Imam Ahmad. Imam Ibnu Ma’in, Ulama yang menjadi rujukan dalam ilmu hadits pada masanya ini pernah berkata; “Aku menulis dengan tanganku sejuta hadits.” Adapun saat beliau wafat, meninggalkan kitab karyanya sebanyak 114 rak dan 4 peti penuh.

Baca: Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag IV

Alquran, Syafaat  Hamba Beriman

Salah satu keutamaan Alquran adalah sebagai syafaat di akhirat kelak. Seluruh harta, benda, kekayaan, materi, kekuasaan, jabatan, kesemuanya tidak akan dibawa mati. Berbahagialah hamba beriman yang senantiasa dekat dengan Alquran. Karena Alquran akan menjadi pembelanya di hari kiamat kelak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ . وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ . قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ

“Shiyam (Puasa) dan Al-Qur’an akan memberikan syafaatnya kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka berilah ijin kepadaku untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Al-Qur’an berkata, ‘Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka berilah saya ijin untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Keduanya dapat ijin untuk memberikan syafa’atnya” (hadits shahih riwayat Ahmad).

Kita hendaknya bersyukur kepada Orang Tua kita, Guru-Guru dan Pimpinan kita yang telah menunjukkan dan mengajarkan Alquran untuk kita. Mereka yang setiap hari mengisi hari-harinya dengan Alquran, ialah yang kelak akan beruntung, karena mendapat keistimewaan syafaat dari Alquran.

Para Guru, para Pengajar Alquran, yang telah merelakan waktunya untuk bangun malam, mempersiapkan hafalan Alquran, mempersiapkan cara mengajarkan Alquran, maka in sya Allah, tidak akan sia sia disisi Allah. Hal tersebutlah yang akan menjadi pembela kita kelak di akhirat, juga yang membantu menentukan tingkatan surga sebagai hadiah dari Allah Ta’ala.

Nabi Zakaria Berdoa dengan Suara Lembut

Nabi Zakaria berdoa kepada Allah dengan suara yang lirih, dan hal itu pula yang Allah sukai, maka Allah mengabadikan kisahnya di dalam Alquran untuk menjadi contoh bagi umat sesudahnya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا

“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut (lirih).” (QS.Maryam:3)

Menurut Qatadah, Sesungguhnya Nabi Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa karena kecintaannya kepada Allah  ﷻ. Sesungguhnya Allah mengetahui kalbu orang yang bertakwa, dan Allah mendengar suara yang perlahan. Sebagian ulama Salaf mengatakan, Nabi Zakaria bangun di tengah malam, sedangkan semua muridnya telah tidur, lalu dia berbisik kepada Tuhannya seraya berdoa dengan suara yang lembut. Maka Tuhannya pun berfirman kepadanya, “Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu.”

(Bersambung Bag. II)

Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan // Ibn Al.Choer

Artikel sebelumyaMeneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. IV)
Artikel berikutnyaNabi Zakaria-Kisah Inspiratif Sepanjang Masa (2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here