Home Artikel Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (III)

Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (III)

0

Penghafal Al-Qur’an Mempunyai Modal Utama Dalam Berdakwah

Dakwah   merupakan   salah   satu   bentuk   komitmen   muslim   terhadap agamanya.  Setiap   muslim   dan   muslimat  wajib   mendakwahkan  Islam,  sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan masing-masing, sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas  yang  dimiliki,  baik  kepada orang  Islam  maupun  orang-orang  yang  tidak  atau belum  beragama  Islam. 

Tentang  kewajiban  berdakwah,  Allah  ﷺ  berfirman sebagaimana  yang  terdapat  dalam  Al-Qur’an  Surat  Ali  Imran  ayat  104: “Dan hendaklah ada di antara kamu, segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh  kepada  yang  ma’ruf  dan  mencegah  dari  yang  munkar,  merekalah orang-orang yang beruntung.”

Setiap muslim diperintahkan agar berusaha mengubah kemungkaran yang diketahuinya.  Kaum  muslimin  diperintahkan  agar  ada  sekelompok  muslim  yang menekuni  ajaran  Islam  secara  khusus  untuk  disampaikan  dan  diajarkan  kepada orang lain. Dan Al-Qur’an menempati  posisi  sebagai  sumber pertama dan utama  dari seluruh ajaran Islam  dan berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman  bagi  umat  manusia  dalam  mencapai  kebahagiaan  hidup  di  dunia  dan  di akhirat. Sebagaimana disebutkan dalam Qs. Al-Isra ayat 9: 

, إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”.

Tafsir Al-Wajiz menjelaskan bahwa Allah mengabarkan tentang kemuliaan dan keagungan Al-Quran, bahwasanya Al-Qur’an lebih adil dan mulia dalam aspek akidah, amal perbuatan, maupun akhlak. Barangsiapa yang meraih petunjuk dengan seruan ajaran Al-Qur’an, maka dialah manusia yang paling sempurna, paling lurus dan paling sarat dengan petunjuk dalam segala urusannya. Al-Qur’an juga memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal shalih, baik itu berupa kewajiban-kewajiban maupun perbuatan-perbuatan yang bersifat sunnah. Allah telah menyediakan bagi mereka di tempat kemuliaanNya (surga), yang tidak ada yang mengetahui karakteristiknya kecuali Allah. Adapun orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, maka Allah sediakan bagi mereka azab yang pedih. Al-Qur’an mengandung kabar gembira dan ancaman, serta cara-cara perolehan kabar gembira itu, yaitu (dengan cara) beriman dan beramal shalih, dan sebab-sebab yang memastikan (datangnya) ancaman yaitu (dengan melakukan) perkara yang berlawanan dengannya. [1]

Para Penghafal Al-Qur’an mempunyai modal yang sangat besar dalam berdakwah. Karena Al-Qur’an merupakan materi utama dalam berdakwah. Bagaimana seseorang bisa berdakwah jika tidak memahami Al-Qur’an?

Maka disinilah keutamaannya para penghafal Al-Qur’an. Allah  mengistimewakan Para penghafal Al-Qur’an karena melalui lisannya, melalui sikap dan perbuatannya, Allah pilih mereka sebagai penyeru kebaikan yang mengajak manusia dari lembah kegelapan menuju ketauhidan yang menjanjikan kebahagiaan dunia akhirat.

Para Penghafal Al-Qur’an Menjadi Motivator di Medan Peperangan      

Keutamaan-keutamaan menghafal Al-Qur’an ini tidak hanya terjadi di dalam sholat. Namun di medan perang pun para penghafal Al-Qur’an adalah orang-orang yang dipilih, orang-orang yang menjadi patokan untuk memotivasi pasukan umat islam saat menyebarkan agama Allah SWT.

Dalam perang Yamamah di tahun 11H/632 M,  Pasukan Abu Bakar yang dipimpin oleh Khalid bin Walid melawan Pasukan Musailamah Alkadzab. Jumlah pasukan kaum muslimin sebanyak 13.000 sedangkan pasukan murtadin berjumlah 40.000 orang. Pada peperangan tersebut, terdapat jumlah korban yang banyak dari kedua belah pihak.

Perang ini memiliki cerita tersendiri bagi penghafal Alquran. Panglima pasukan, Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu, memberi mandat kepada pemegang bendera. Bendera tidak boleh jatuh dari tangan mereka kecuali karena mati. Dan jangan pula diambil dari mereka kecuali sebelumnya ruh mereka telah diambil.  Apakah yang dilakukan oleh sahabat untuk memotivasi sahabat lain? Para shahabat saling memberikan wasiat di antara sesama mereka, dengan berteriak dan mengatakan, “Wahai para Penghapal surat Al-Baqarah, hari ini saatnya menjadi pahlawan.”

Abu Hudzaifah berkata, “Wahai penghapal Al-Quran, hiasilah Al-Quran dengan amal kalian.” Lalu ia terus maju ke tengah pasukan musuh hingga gugur.

Pada peperangan itu, Bendera Muhajirin dipanggul oleh Abdullah bin Hafsh bin Ghanim al-Qurasyi. Panji Muhajirin terus berkibar bersamanya hingga ia terbunuh. Kemudian diserahkan kepada Salim, maula Abi Hudzaifah radhiallahu ‘anhu. Salim mengatakan, “Aku tidak mengerti, mengapa kalian serahi aku bendera ini? Menurut kalian, apakah Penghafal Alquran akan teguh kokoh hingga wafat, sebagaimana pemegang sebelumnya?”

Orang-orang Muhajirin mengatakan, “Iya, lihat apa yang akan terjadi nanti? Apa engkau khawatir kami ditimpa kekalahan karenamu?

Kalau seperti itu, maka aku adalah seburuk-buruk penghafal Alquran,” bantah Salim menepis keraguan kaumnya.

Salim terus memegang panji muhajirin. Dia tahu, hal ini adalah perjanjiannya dengan Allah dan kaum muslimin. Janji untuk tidak menyerah dan membiarkan bendera pupus terlepas. Salim genggam erat bendera dengan tangan kanannya, hingga tangan kanannya putus tertebas. Lalu pindah ke tangan kirinya, hingga mengalami nasib serupa. Kemudian ia apit hingga tersungkur, sampai akhirnya ruh berpisah dengan jasadnya. Salim pun menepati janjinya. Ia gugur sebagaimana penghafal Alquran, pemegang panji sebelumnya.

Di saat kritis, Salim bertanya bagaimana keadaan temannya (mantan tuannya), Abu Hudzaifah, “Apa yang terjadi pada Abu Hudzaifah?” Orang-orang menjawab, “Ia terbunuh (syahid)”. “Letakkan aku bersamanya,” Salim meminta dimakamkan satu liang dengan mantan tuannya. Lalu keduanya dikumpulkan dalam satu makam. Keduanya syahid. Mereka berkumpul di perut bumi sebagaimana waktu menginjakkan kaki di atasnya. Mereka hidup bersama dan wafat bersama. Mereka bersama di saat hijrah dan bersama saat kemenangan tiba. Semoga Allah meridhai keduanya.

Mengapa yang pertama disifati oleh para sahabat adalah Al-Qur’an? “Wahai Para Penghafal surat Al-baqarah?” Demikian karena Al-Qur’an membentuk jiwa manusia menjadi  sangat kuat. Ketika hafalan Al-Qur’an  terhujam kuat di dada manusia, dan melekat erat di otak, maka manusia tersebut akan memiliki mental yang kuat dan tidak mudah menyerah. Selain itu akan mendatangkan juga berkah bantuan dari Allah ﷻ  lantaran  adanya para penghafal Al-Qur’an.

Alquran adalah panji Islam. Para penghafal Alquran adalah pemegang panjinya. Oleh karena itu, mereka diprioritaskan membawa panji Islam bahkan di tengah kecamuk perang. Pembawa Alquran adalah mereka yang membawanya dalam wujud ilmu dan amal. Mereka memuliakan diri dengan Alquran. Kemudian Islam memuliakan mereka. Dan Allah menjadikan mereka mulia.

Pada kisah tersebut dapat kita simpulkan bahwa para penghafal Al-Qur’an bukan saja memiliki jiwa yang kuat namun juga terkenal sangat pemberani di medan peperangan. Demikian karena mu’jizat Al-Qur’an yang sangat luar biasa pengaruhnya bagi seluruh alam.

Allah ﷻ dalam Surat Al Hasyr berfirman dalam QS Al-Hasyr ayat 21 :

لَوْ أَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْءَانَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُۥ خٰشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah …”

Kalau sekiranya  Allah turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah) Yakni keagungan, kefasihan, dan kandungan Al-Qur’an yang penuh pelajaran yang dapat melembutkan hati, dan jika ia diturunkan kepada salah satu gunung, meskipun gunung itu sangat kuat dan keras niscaya akan hancur karena ketakutannya kepada Allah dan siksaa-Nya, dan karena kekhawatirannya tidak dapat menjalankan pengagungan firman Allah yang diwajibkan kepadanya. (Zubdatut Tafsir)

Gunung yang sedemikian kuat, akan bisa menjadi hancur lebur karena Al-Qur’an. Apalagi jika manusia memilki Al-Qur’an di dalam dadanya, yang melekat di otaknya, yang ia pahami dan ia amalkan, pastilah Al-Qur’an ini akan membentuk manusia menjadi sosok yang tangguh, yang mempunyai mental sangat kuat. Ia akan mampu menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan dalam hidupnya.

Kita memerlukan generasi yang bermental sangat kuat, tangguh, pemberani juga pantang menyerah. Demikian karena tantangan yang akan dihadapi oleh generasi anak-anak kita akan jauh lebih berat dibandingkan masa generasi kita. Dahulu, tidak ada godaan narkoba, pornografi dls. Kedepannya, godaan tersebut tentu akan menjadi lebih banyak lagi. Belum lagi tantangan globalisasi  dan integrasi budaya internasional, dimana terjadi pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan secara besar-besaran. Jika generasi penerus kita tidak bermental kuat, maka mereka akan kesulitan menghadapi tantangan masa depan.

Nah, untuk menguatkan mental generasi penerus kita, salah satu jalan utamanya adalah menggiring mereka untuk dekat dengan Al-Qur’an, meminta mereka untuk menghafal Al-Qur’an, mentadaburinya, memahaminya dan mengamalkannya. Karena tidak ada cara lain guna meraih kejayaan peradaban islam kecuali melalui Al-Qur’an.

(Bersambung Bag. IV)

Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.


[1] Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Wajiz,  pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version