KEADAAN PARA ULAMA SAAT MENDENGAR BACAAAN ALQURAN

Abdullan bin Handzalah Sampai Tidak Bisa Duduk Karena Ingat Neraka

Abdul Rahman bin al-Harith bin Hisyam berkata: “Pada suatu hari aku menjenguk Abdullah bin Hanzalah yang sedang sakit. Beliau terlentang di atas Kasur. Ada seseorang membaca Alquran untuknya. Ketika dia membaca ayat,

لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

Bagi mereka tikar  (tempat tidur) dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raf:41)

Tiba-tiba Abdullah menangis.  Beliau menangis sampai kami khawatir nyawanya akan keluar. Kemudian beliau berkata, “Mereka berada di dalam kawah-kawah neraka!” Tiba-tiba beliau bangun berdiri.  Kemudian orang memintanya duduk namun beliau menjawab, “Aku tidak bisa duduk karena teringat api neraka, jangan-jangan aku termasuk salah seorang dari penghuninya.” (Al-Takhwif mina a-nar, Ibn Rajab al-Hanbali)

Ali Bin Fudhail Pingsan dan Meninggal Karena Bacaan Alquran

Fudhail bin Iyadh melaksanakan shalat Maghrib dan di samping beliau ada putranya Ali bin Fudhail. Fudhail membaca اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ ketika saat sampai pada ayat لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ, Ali terjatuh pingsan sementara ayahnya Fudhail tidak sanggup melanjutkan bacaan Qurannya, lalu Ayahnya mengikat Ali, dimana ia baru siuman di tengah malam.

Ya’qub bin Yusuf berkata, “Dahulu, Fudhail bin Iyyadh jika mengetahui bahwa anaknya, Ali, berada di belakangnya -yakni dalam sholat-, maka ia berusaha berlalu saja (dalam membaca Alquran), tidak berhenti dan tidak menimbulkan takut. Jika ia mengetahui anaknya tidak berada di belakangnya,  maka ia memilih-milih bacaan Alquran yang membuat sedih dan takut.

Suatu hari,  ia menyangka bahwa putranya tidak berada di belakangnya, sehingga ia membaca ayat ini:

قَالُوا۟ رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَآلِّينَ

“Mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat.’ (Al-Mu’minun: 106)

Maka Ali jatuh pingsan. Ketika  Al Fudhail mengetahui bahwa putranya berada di belakangnya dan jatuh pingsan, maka ia cepat-cepat menyelesaikan bacaannya. Mereka pergi kepada ibunya seraya berkata, “Lihatlah anakmu.” Ibunya datang lalu mencipratkan air padanya, lalu ia siuman. Ibunya berkata kepada al-Fudhail, “Engkau akan membunuh anakku ini.” Beberapa waktu kemudian, karena menyangka putranya tidak berada di belakangnya, ia membaca

وَبَدَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا۟ يَحْتَسِبُونَ

 ‘Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.’ (Az-Zumar: 47).  Mendengar ayat tersebut, putranya jatuh dan meninggal dunia. [Diambil dari kitab At Tawwaabiin karya Ibnu Qudamah].

Betapa tingginya rasa takutnya Ali kepada Allah, hingga membuat benar-benar tersentak karena rasa takut dan cinta kepada Allah. Demikianlah air matanya  kaum yang shalih.

Umar RA Mendengar Surat At Tuur dan Sakit Sebulan

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah kejadian yang terjadi pada diri Umar bin Khattab. Pada suatu malam, Umar berjalan dengan mengendarai himarnya menyusuri jalan-jalan kota Madinah. Dan sampailah ia di rumah seorang penduduk yang sedang melakukan qiyamullail. Umar berhenti mendengarkan bacaan orang tersebut, yang kebetulan membaca surat At-Thur. Ketika orang tersebut sampai pada ayat ke-7 dan ke-8:

 إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٌ (Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi).

مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٍ (Tidak seorangpun yang dapat menolaknya).

Maka mendadak terjadi sesuatu pada Umar. Badannya serasa tergodam keras. Ia lemas. Ia mengatakan, “Demi Allah, sumpah itu terjadi.” Lalu ia terpaku dalam diam. Sangat lama. Dan pulang.

Sampai di rumah, ia sakit sebulan, tak diketahui jelas apa penyakitnya. Sementara itu Zubair bin Muth’im ketika mendengar surat yang sama dari Tilawah Rasulullah ﷺ ketika sholat Maghrib, beliau merasakan takut yang luar biasa terhadap ancaman itu dan saat itulah ia masuk Islam.

Seorang Gadis di Kufah Wafat Karena Mendengar Bacaan Alquran Manshur bin Ammar

Ketika Manshur bin Ammar menjalankan ibadah haji, dia tinggal disalah satu kampung di Kuffah. Pada suatu malam yang gelap, karena suatu keperluan, dia pergi keluar rumah seorang diri.

Ketika sedang berjalan sendirian, tiba-tiba dia mendengar suara seorang yang memelas, “Ya Allah, demi keagungan-Mu. Aku tidak menghendaki perbuatan maksiatku ini untuk menentang-Mu. Kulakukan ini bukan karena kebodohanku, tapi kusadari diriku terperosok ke lembah kemaksiatan. Kini aku mendambakan anugerah-Mu. Sudilah Engkau menerima alasanku ini. Jika antara aku dan engkau ada tabir, sehingga Engkau tidak menerima alasanku ini dan tidak mengampuninya, betapa lamanya ku akan menanggung nestapa dan siksa”.

Kemudian suara itu diam. Manshur menyusulnya dengan bacaan ayat suci Alquran surat At-Tahrim : 6. Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, perliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjagaanya para malaikat yang kasar dan keras, serta tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan –Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya”.                   .  

Kemudian Manshur mendengar jeritan yang keras dan sesuatu yang bergerak-gerak. Tidak lama kemudian, gerakan itu berhenti. Mansur lalu meninggalkan tempat itu dan meneruskan langkahnya untuk menyelesaikan keperluannya.                    

Keesokan harinya, Manshur mendatangi tempat tadi malam dimana ia mendengar suara itu. Akan tetapi, di tempat itu terlihat banyak orang bertakhziah. Di situ ada seoran perempuan tua menangis di samping mayat seorang gadis. Ternyata perempuan tua itu adalah ibu si mayat.

Pasti Allah akan membalas yang telah membunuh anakku ini,” kata ibu itu disela tangisnya.
Kemudian dia membaca ayat Alquran di atas (At-Tahrim: 6) . “Saat itu anakku sedang shalat, kemudian dia jatuh tersungkur, hingga meninggal karena mendengar bacaan ayat itu,” sambungnya lagi.

Masya Allah, sedemikian mulianya air mata dan tangis orang shalih. Tersungkurnya seseorang karena kekhusyukan, ketakutan dan kecintaan yang mendalam kepada Rabbnya. Ibnu al-Qayimm dalam kitabnya al-Fawaid mengatakan, “Jika engkau ingin mengambil manfaat dari Alquran maka pusatkanlah hatimu ketika membaca dan mendengarkannya, fokuskanlah pendengaranmu dan hadirlah seperti seseorang yang sedang diajak bicara oleh Allah ﷻ

(Selesai)

Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

Editor: Tanti Ummu Fahdlan

Artikel sebelumyaKEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. III)
Artikel berikutnyaMeneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. I)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here