Jika ada sebuah film atau cerita, tentu yang sering di-highlight adalah seputar tokoh utama. Begitu pula kisah tentang Hannah binti Faquz, skenarionya sangat istimewa diabadikan dalam surah Ali Imran ayat 33-37. Sangat singkat namun sarat hikmah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing).” [Ali Imran, 3: 33]

Setelah Allah berfirman memilih Keluarga Imran sebagai salah satu profil terbaik pada zamannya -disetarakan dengan keutamaan Nabi Adam, Nabi Nuh dan Keluarga Ibrahim ‹alaihimussalam; pada ayat berikutnya Allah langsung menceritakan tentang Istri Imran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

(Ingatlah), ketika istri `Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [Ali Imran, 3: 35]

Dengan alur yang sangat singkat, dikisahkan tentang kehamilan Hannah dan nadzar kehamilannya kepada Rabbnya. Itu berarti nadzar yang diikrarkan kepada Rabbnya sangat penting untuk direnungkan dan diambil pelajaran bagi kaum Muslimin yang mau mengkajinya.

Istri Imran berjanji kepada Rabbnya bahwa dia akan mempersiapkan bayi dalam kandungannya kelak menjadi hamba Allah shalih yang berkhidmat di Baitul Maqdis. Isi janjinya lebih bermakna sebagai doa & harapan yang dia pinta dan sampaikan kepada Rabbnya, supaya kelak anak yang dilahirkannya menjadi hamba yang berbakti kepada Allah dan mengabdi untuk agama Allah.

Sebagai seorang Ibu yang bertaqwa, Hannah pun berkomitmen dengan janji & harapan yang dibuatnya sendiri. Hannah tentu menjaga kehamilannya dengan cermat, tekun beribadah dan senantiasa mendoakan sang calon bayi yang berada dalam kandungannya. Boleh jadi mengajak sang janin berkomunikasi semoga kelak menjadi anak seperti yang diharapkan.

Tidak mustahil, sebab penelitian saat ini pun menjelaskan bahwa pendengaran janin telah aktif untuk menerima dan merekam rangsangan suara dari luar. Terlebih itu adalah suara ibundanya, dapat berupa bacaan Al-Qur’an maupun doa. Janin juga sudah bisa menerima rangsangan berupa elusan kasih sayang dari kedua orang tuanya di perut.

Hannah sudah sangat lama menanti kehamilan, sehingga dia hamil di usia senja. Suaminya pun meninggal ketika dia mengandung. Sudah pasti Hannah sangat menjaga bayi dalam kandungannya dengan hati-hati, sebagai bentuk rasa syukur kepada Rabbnya.

Hingga masa melahirkan pun, Hannah tak pernah putus komunikasi dengan Rabbnya. Begitu lahir dan mengetahui bayinya seorang perempuan, dia pun mengadu pada Rabbnya. Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya. Dan itulah ketetapan-Nya.

Sekali lagi Hannah menerima (ridha) dengan apapun yang dikaruniakan Allah kepadanya. Langsung terucap doa keluar dari lisannya bagi bayi Maryam yang dilahirkannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. “Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.” [Ali Imran, 3: 36]

Dari Abu Hurairah yang bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Tiada seorang anak pun yang baru dilahirkan melainkan setan menyentuhnya ketika dilahirkan, lalu ia menjerit menangis karena setan telah menyentuhnya, kecuali Maryam dan anak laki-lakinya.”

Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Bacalah oleh kalian jika kalian suka firman berikut,” yaitu: ‘Dan sesungguhnya aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk.’

Coba tanyakan pada diri sendiri saat melahirkan, doa apa yang terbetik seketika. Biasanya harapan menjadi anak shalih, penyejuk mata hati, sehat ibu dan bayinya. Hanya seputar anak yang dilahirkan. Namun berbeda dengan Hannah, spontanitas mendoakan untuk bayi yang dilahirkan serta anak keturunannya.

Perhatikanlah doa Istri Imran saat persalinannya. Dia tidak hanya mendoakan bayi yang baru saja lahir, akan tetapi sekaligus anak keturunannya. Seperti itulah karakter seorang wanita mukminah yang memiliki visi dan pemikiran yang jauh (hingga generasi) ke depan. Pandangannya melampaui zamannya.

Sekarang kita belajar dari Hannah tentang salah satu berdoa terbaik saat melahirkan. Allah abadikan kisahnya supaya para wanita beriman mengambil teladan dari para wanita mulia masa lampau di dalam Al-Qur’an. Tidak hanya itu, Hannah telah mempersiapkan keshalihan sang jabang bayi sejak dalam kandungan, walau dia tak tahu yang akan dilahirkannya laki-laki atau perempuan. Persiapan dini sejak kehamilan hingga saat persalinan, memikirkan generasi melampaui zamannya, hanya dapat dilakukan oleh wanita mukminah yang visioner seperti Istri Imran.

Demikianlah kesuksesan Keluarga Imran dalam mempersiapkan anak keturunannya yang terbaik di zamannya hingga lahir biidznillah: Maryam, wanita yang dipuji Rabbnya sangat menjaga kehormatannya dan termasuk qanitin (hamba yang taat); dan Isa putra Maryam seorang Nabi Allah yang istimewa.

Bisa disimpulkan potret keluarga Imran yang utama, dimulai dan kunci awalnya terdapat pada sosok Hannah, istri Imran, seorang wanita yang bertaqwa, dekat dengan Rabbnya serta visioner. Wallahu a’lam.

Oleh: A. Damayanti Ahmad, M.Pd.I.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here